Untuk Jiwa Di Ruang Asmara, Alur Yang Sama

Mengutip dari sebuah tulisan Abay Aditya di buku berjudul “Cinta Dalam Ikhlas” yang mengatakan bahwa “Ikhlas itu sulit, tapi jika tidak dilakukan sakit. “

Banyak sekali kisah tentang cinta dengan alur yang sama dengan permasalahan yang sama. Memang alurnya akan tetap begitu saja dan tak jarang membuat banyak orang merana. Di toko buku, sudah banyak buku yang menyediakan kisah cinta mulai dari kebahagiaan sampai dengan kekecewaan. Namun, tak jarang setiap cinta selalu memiliki luka nya sendiri.

Ah, bukankah jika kita jauh menelisik ke dalamnya dan mau melihat orang-orang yang sedang berada pada ruang asmara, alurnya pun tetap begitu adanya. Tentang sebuah pertemuan pertama, malu-malu, cinta yang terpendam, cinta yang diungkapkan, cinta bertepuk sebelah tangan, cinta dengan luka, cinta berakhir pernikahan, cinta berakhir penghianatan. Yang jarang terpikirkan adalah saat seseorang memutuskan masuk ke cinta paling dalam, maka dia juga rentan mendapat luka yang dalam.

Begitulah nuansa asmara jika tidak disertai dengan ilmu yang cukup dengan niat yang baik dan dengan tujuan yang jelas yang sudah diizinkan oleh-Nya. Cinta, siapa yang tak merasakannya meskipun hanya sekedar getaran kecil dan tak terungkap dalam setiap ruang hati? Ya, pastinya semua bisa merasakan dan memiliki cara sendiri-sendiri dalam mengungkapkannya. Nah, kini aku memiliki suatu cerita tentang kedua pihak yang sedang dilanda cinta.

Sama, mereka sedang berada di ruang asmara dengan perasaan menggebu ingin bertemu, sering dilanda rindu, begitu pula dengan cemburu. Tak jarang, mendengar suaranya saja menjadi hal yang melegakan. Namun, begitu pula ada pertengkaran. Sampai akhirnya, ada sebuah hubungan dengan nuansa rayuan dan janji yang terlontarkan dengan mimpi yang dibuat berdua. Sampai akhirnya, keduanya saling bergantung. Jika ada dia, maka kebahagiaan datang, jika tidak maka kegalauan yang menyelimuti jiwa. Pertengkaran kecil begitu juga terjadi. Keegoisan yang merasuki diri keduanya. Sampai ada perubahan  dalam diri dan tak lagi ingin mempertahankan hubungan itu. Berbagai cara dilakukan dengan menuruti semua kemauan, bahkan ada yang memberikan dirinya demi mempertahankan hal itu.

Suatu ketika, kecemburuan melanda. Tak pernah ada yang mau mengalah. Yang satu egois hanya ingin diperhatikan dan siapa yang dia cintai tidak dibolehkan berhubungan dengan orang lain. Yang satu egois mengatakan bahwa dirinya benar, hanya mencintai orang itu dan tak ada hubungan apapun dengan orang lain. Dia hanya ingin bersikap akrab dengan siapapun.

“Hati wanita mana yang kuat jika melihat orang yang dicintai dekat dan dibicarakan oleh wanita lain?”
Suatu ketika si wanita bertanya dalam hati. Dia hanya bisa menangis. Menikmati setiap cemburu yang terjadi hanya untuk sebuah kata “Mempertahankan Cinta.” Sampai akhirnya, dia lelah. Keraguan dan kecurigaan yang menyiksa. Begitu pula dengan si pria yang mulai tidak merasakan perhatian dari si wanita. Dia mulai mengecek wanita mana yang baik. Bermula dengan kenalan sampai akhirnya membuat hubungan lebih akrab. Dia mulai jarang membalas pesan atau sekedar bertukar kabar dengan si wanita. Disana, si wanita menangis tergugu sendiri, tak mengetahui apa yang terjadi sebenarnya. Sampai akhirnya ia menulis sebuah pesan “Carilah orang lain yang akan menggantikan aku.” Sebelum dia menombol “kirim” , si pria sudah memberikan pesan lebih dulu menyatakan bahwa ia rindu. Hati si wanita pun bimbang. Mungkin ini jalan untuk mereka bisa mengembalikan kepercayaan. Dia hapus kalimat tadi dan mereka mulai saling melempar perhatian lagi. Namun, di pertengahan jalan, si lelaki tak lagi membalas pesan. Pesan itu tak terbalas sampai beberapa hari. Dan, si wanita kembali menderita. Dia menuliskan lagi pernyataan tadi “Carilah orang lain yang akan menggantikan aku.”  Dan ya, dia menombol tombol kirim. Ia mengatakan bahwa si lelaki ini telah berubah. Dia ingin melepas, tetapi masih cinta. Dia ingin bertahan tapi tak tahan akan alur seperti ini.

Kegundahan melanda. Si wanita duduk di tepi ranjangnya. Melihat foto mereka berdua. Dan, satu pesan kembali masuk. Namun, kali ini bukan dari lelaki itu, itu dari sahabat nya yang mengatakan bahwa lelaki itu sudah bersama wanita lain. Wanita itu gak terima, dan sampailah dia pada keputusan menelfon lelaki itu. Lalu, dia mengangkatnya.
“Kenapa kamu sama dia? Bisa jelaskan?”
“Bisa. Aku memang dekat dengan dia. Dan aku nyaman sama dia.”
Hati wanita itu sudah sakit. Air matanya mengalir deras. Dia tak bisa bicara lagi.
“Kamu kecewa kan? Aku juga kecewa karena kamu  tidak lagi perhatian denganku. Jadi, aku sudah tak lagi ingin membuat mimpi bersamamu. Mimpi kita sudah selesai!”
Begitu dia mengakhiri percakapan itu. Dan tanpa merasa bersalah, dia memblokir nomer si wanita dan dia jalan dengan wanita lain dengan target baru.

Begitulah lagi alur percintaan nya. Ketika wanita itu akan memulai lagi bersama lelaki lain, aku punya firasat semua akan berakhir demikian pula dengan alasan klasik yang tak dapat diterima. Kini, aku ingin kau genggam hatimu sendiri. Jaga hatimu dan jangan berikan ke orang lain . Karena, orang lain bisa membuatmu bahagia, tapi bisa juga menjatuhkannya. Kini, dia harus menyelamatkan hatinya. Dia harus mengikhlaskan rasanya. Dia harus mematahkan mimpi bersamanya.

Begitulah alur percintaan tanpa izin-Nya. Jangan izinkan masuk lagi ke hubungan berikutnya yang menyesakkan pada akhirnya. Cukup itu terjadi 1 kali, dan jadikan pembelajaran. Pada akhirnya, cukup kamu sendiri.
Aku fikir “Kamu tak butuh cinta, kamu butuh Allah yang memberi cinta.” Cukup dekat dengan-Nya. Allah memisahkan mereka karena Allah tahu itu bukan yang terbaik untuk masa depan mereka.

Kini, kamu yang membaca tulisan ini dan masih terjebak di dalam hubungan itu, coba pikirkan kemungkinan ke depannya. Dan aku ingin memberi pertanyaan padamu:

“Apa yang kau pertahankan? Bertahan dalam sebuah ketidakpastian? Bukankah itu menyakitkan? Bukankah kau juga tak tahu bahwa dia jodohmu atau bukan? Jika memang iya dia jodohmu, apa harus dilalui dengan hubungan yang dilarang-Nya?”

Kini, kamu yang membaca tulisan ini, dan masih merasakan cinta dan belum masuk ke sebuah hubungan atau kamu yang membaca tulisan ini dan baru saja dihianati oleh si ‘dia’ sudah cukup ya. Jangan ulangi kisah yang ku tuliskan tadi. Kisah itu, biar mereka saja yang merasakan, kamu jangan! Ada yang lebih penting dari mewujudkan mimpi bersamanya, yaitu mimpimu sendiri. Cukup cintai dirimu sendiri, dan jadilah yang terbaik versimu. Untukmu yang sudah dihianati, ucapkan padanya suatu hari nanti :

Terimakasih sudah menghianatiku dan mematahkan mimpi kita berdua. Kini, aku tahu ketulusanku dan kesetiaanku tak pantas ku berikan ke orang sepertimu. Disana, ada yang lebih butuh hal ini dariku. “

Dan kini, kau harus menanamkan sebuah pernyataan dalam hatimu :

Bukan aku yang kehilangan nya, tapi dia yang akan merasa kehilangan aku. Dia yang akan menyesal sudah menyakiti orang sepertiku. Dan aku bisa hidup dan bisa lebih hebat tanpanya. Aku akan buktikan itu. I can do it!”

Salam
Sa~
22 Desember 2018

Advertisements

Episode Kehidupan

“Ketika sedang sedih, coba lihat atau coba ingat anak kecil yang dengan mudahnya tertawa berlari bersama dan bermain dengan riang atau mereka hanya sekedar tertawa dengan gurauan ‘cilukba’ dengan bertepuk tangan.”

Sesederhana itu, terkadang kita harus belajar dari anak kecil yang mudah memaafkan, yang akan kembali tertawa setelah menangis, yang hidup dengan kesederhanaan . Bagaimana tidak? Mereka tertawa hanya dengan bermain petak umpet, mereka tertawa hanya dengan bermain layang-layang, mereka tertawa hanya dengan mendapat ikan atau kupu-kupu yang ia kejar, dan masih banyak hal lain lagi yang membuat mereka mudah untuk bersyukur dan menikmati hidup nya. 

Setiap orang yang diberikan kehidupan oleh Allah selalu diberikan kesempatan untuk beribadah dan tertawa. Tapi ingat, kehidupan dunia ini hanya sementara tak pernah ada yang abadi. Kehidupan sesungguhnya adalah alam akhirat. Dunia ini hanya senda gurau dan tempat manusia belajar untuk mempersiapkan bekal untuk kehidupan sesungguhnya dengan 2 pilihan, surga atau neraka.

Seperti yang tadi ku katakan bahwa dunia ini hanya senda gurau dan sementara, maka begitu pula kesedihan yang tak akan bertahan lama. Pasti ada kebahagiaan dibalik kesedihan. Ada solusi dibalik masalah. Ada pertemuan dibalik perpisahan. Ya, hanya sesederhana itu. Namun, tak pernah ada yang bisa memaknai dengan baik kecuali orang-orang yang selalu mengingat-ingat sejarah hidupnya. 

Herodotus, Bapak Sejarah Dunia mengatakan bahwa sejarah itu seperti lingkaran yang berputar. Tidak hanya garis lurus yang stagnan. Sejarah itu seperti roda yang terus berputar seperti apa yang kita buat. Oleh karena itu, semua yang dihidupkan oleh Allah memiliki hak untuk menciptakan sejarah di kehidupannya yang akan dikenang oleh orang di sekitarnya. 

Tenanglah! Sutradara terbaik di dunia ini adalah Allah. Kita hanya tokoh cerita yang memainkan skenario-Nya. Siapa yang menurut maka akan mendapat hasil terbaik, jika tidak maka kita akan tersesat. Sederhana saja, jalan cerita apa saja yang dibuat oleh Allah, itulah yang terbaik untuk hamba-Nya. Yakinlah dengan hal itu tanpa banyak kata tapi. 

Sederhana saja, ketika kamu dipertemukan oleh orang yang baik, maka Allah ingin kamu bersyukur atas segala karunia-Nya yang tak terkira. Jika kamu dipertemukan dengan orang yang buruk, Allah sedang menguji tingkat kesabaranmu. Saat semua sesuai harapan, Allah mengizinkanmu untuk berbahagia dan meluaskan rasa syukurmu, ketika sebuah kenyataan tak sesuai harapan, Allah ingin meluaskan ikhlasmu dan menyiapkan yang lebih baik untukmu. 

Sederhana saja, selama kamu yakin bahwa Allah maha segalanya, husnudzon pada-Nya, mendekat pada Allah, menjadi kekuatan terbesar mu untuk hidup, maka tidak ada sesuatu yang berhak mengusikmu. Allah itu adil, jika ada yang berbuat buruk padamu, lapangkan hatimu untuk memaafkan. Tak perlu membalas karena itu mutlak hanya urusan Allah. Selama kamu terus berbuat baik, berkata baik, dan percaya pada-Nya, maka hanya kebaikan pula yang akan berbalik padamu. 

Sederhana saja, cukup tersenyum dan syukuri apa yang ada. Lepaskan apapun yang membuatmu berantakan sekalipun itu yang pernah kau cintai. Allah ingin mengingatkan bahwa rencana-Nya adalah yang terbaik, apa yang diambil darimu adalah apa yang tidak baik untukmu di masa depan. Allah ingin kamu bahagia. 

Sederhana saja, ketika orang yang kau cintai menghianatimu. Berterima kasih lah pada Allah karena dengan itu kamu disadarkan bahwa kesetiaanmu sudah kau letakkan pada orang yang salah. Ingat, Allah lebih tahu apa yang terbaik untukmu di masa depan sedangkan kamu tidak. 

Sederhana saja, teruslah tersenyum dan tertawa. Orang lain boleh saja menjatuhkanmu, pergi darimu, menghianatimu, memiliki niat buruk padamu, selama Allah tetap kau jadikan prioritas maka Dia tak akan pernah meninggalkan mu. Tersenyumlah dan katakan pada dunia kau baik-baik saja. Berikan inspirasi pada semua orang. Biar mereka hanya mengetahui bahwa kamu itu bahagia. Jika kamu ingin menangis, meratapi, maka hanya lakukan itu di hadapan Allah di sujud panjangmu, di doa-doa mu. Karena, hanya Allah yang mau mendengar semua keluh kesahmu dan hanya Allah yang tahu isi hati dan keinginanmu. 

Hai, tetaplah semangat. Semua akan indah sesuai skenario-Nya. Sedihmu hanya sementara. Percayalah, bahagiamu akan bertahan lama. Tertawalah bersama orang orang terdekatmu. Ingat, ketika kamu kehilangan 1 hal, masih banyak hal yang kau miliki. Allah tetap ada di sampingmu. Perbaiki dirimu dan ibadahmu, maka Allah sudah siapkan hal baik setelahnya. Jangan pernah berhenti berbuat baik, maka hal baik pula yang akan datang padamu. 

Keep Hamasah!! Episode kehidupan mu akan terus berlanjut. Maka, buatlah cerita yang menarik dan akan menginspirasi orang lain. Yang akan memberi kebermanfaatan untuk dunia dan akhiratmu. 

When Allah is your strength, nothing can break you.”

~Sa

Meraih Ketenangan Jiwa

Dalam diri manusia ada segumpal daging. Jika dia baik, maka jasad pun akan baik. Jika dia buruk, maka jasad pun akan buruk. Segumpal daging itu adalah hati.

.

.

Dari sini, bisa kita simpulkan bahwa jika manusia memiliki hati yang bersih dan baik, maka raga pun juga akan baik. Itulah kenapa kita harus senantiasa melihat orang dari perilakunya, dari kecantikan hatinya.

.

Sungguh indah, jika manusia memiliki hati yang baik. Hati yang selalu tertaut pada Allah. Seandainya manusia memahami makna hidup bahwa semua hal dilakukan hanya untuk ibadah, maka hidupnya akan terus terkait pada Allah.

.

Nah, tak jarang juga manusia yang bertanya: ” Bagaimana sih caranya bahagia?” Banyak orang bertanya akan arti bahagia tapi lupa untuk merasakannya di kondisi apapun. Mereka selalu mengejar arti bahagia dengan berambisi dan membuat kekayaan atau apa yang dimiliki sebagai tolak ukur dalam merasakan kebahagiaan. Padahal, kebahagiaan bisa dicapai saat seseorang bersyukur atas apa yang dimiliki sekarang.

“Lainsyakartum laazidannakum.”

Artinya: Barang siapa yang bersyukur, maka akan ku tambahkan nikmat bagi-Nya.

Itulah janji Allah. Allah yang menciptakan tawa, Allah juga yang menciptakan tangis. Semua selalu ada kurun waktunya.

Lalu bagaimana jika sakinah atau ketenangan jiwa itu tidak didapatkan?

Kuncinya: Saat bahagia, kembali ke Allah. Saat sedih, kembali ke Allah. Hiduplah karena Allah.

Caranya:

1. Belajar sholat dengan khusyu’

2. Sedekah rutin

3. Membaca Al-Qur’an

4. Selalu mengingat Allah dengan dzikir

5. Lakukan hal yang positif

6. Jauhi teman yang membawa toxic

7. Batasi lingkar pertemanan dan batasi penggunaan sosmed

Selamat mencoba 🙂

Hijrah, Let’s Go On!

Berbicara tentang hijrah, ah pastinya sudah sangat sering seorang anak remaja memahami kata ini. Apa itu hijrah? Ya, kebanyakan orang akan menjawab bahwa hijrah artinya berpindah. Maksudnya, hijrah adalah perpindahan manusia dari hal yang buruk ke hal yang baik untuk mendapatkan ridho-Nya.

Namun, faktanya, tak semua orang dapat memahami arti dari hijrah ini sendiri. Baiklah, di tulisanku kali ini, aku akan mencoba menorehkan semua pengamatanku tentang hijrah. Aku akan mencoba menorehkan perihal hijrah yang sebenarnya. Dan maaf jika hal ini menyinggung para pembaca. Dengan menuliskan semua ini, bukan berarti diri ini sudah merasa baik. Namun, tulisan inilah yang juga akan menjadi pengingat bagi diri sendiri untuk senantiasa bermuhasabah diri dan menjadi lebih baik ke depannya.

Hijrah, suatu kegiatan yang sering didengung-dengungkan oleh para aktivis dakwah. Ya, kebanyakan orang mengartikan seseorang yang berhijrah pasti dia ingin berproses menjadi lebih baik. Namun, seseorang yang belum mampu memahami arti sesungguhnya sebuah hijrah akan berlindung di balik tabir hijrahnya untuk melakukan maksiat.

Loh, kok bisa gitu sih? Eiits, keep calm. Ini dia penjelasannya. Ketika seseorang memutuskan untuk berhijrah, pasti banyak orang yang melabeli bahwa dia akan menjadi lebih baik. Nah, untuk hijrah ini, berarti seseorang siap untuk meninggalkan apapun yang dinilai buruk oleh Allah dan orang lain. Hmm, bukankah semua manusia itu pasti akan merasakan tidak enak di hatinya ketika melakukan hal yang melanggar aturan Allah atau melanggar norma dan peraturan? Menurutku, semua orang pasti akan merasakan hal itu. Mereka tak bisa mengelak bahwa ada perasaan mengganjal ketika melakukan hal yang dilarang. Contohnya apa sih? Ketika seseorang mencuri misalnya. Dia akan merasakan keganjalan dalam hatinya ketika mencuri tetapi setan telah membutakan mata batinnya sehingga ia tetap melakukannya. Setelah hijrah, dia akan mulai berhenti mencuri, meninggalkan semua kegiatan itu dan berusaha mencari ridho Allah.

Apalagi ya? Pacaran misalnya. Yang awalnya mereka mulai chat mesra, mulai mempublikasikan hubungan mereka, mulai foto bersama dan diupload di sosial media, mulai mengajak ketemuan, mulai berpegangan tangan, dan yang lainnya sampai berujung pada zina. Nauzubillahimindzalik. Ketika mereka memilih untuk hijrah, maka dia harus rela meninggalkan seseorang yang dicintainya. Mereka harus berani bilang “putus” kepada pacarnya. Karena dia sudah sadar bahwa cinta itu tak pernah diridhoi Allah.

Masalahnya, banyak orang yang salah niat dalam berhijrah. Banyak sekali aktivis dakwah yang justru terjebak dalam hijrahnya. Maksudnya gimana sih? Menurut pengamatan saya pada lingkungan aktivis dakwah, banyak sekali mereka yang berpakaian syar’i, tapi justru berpacaran. Ada yang sering meng-upload tentang dakwah dan larangan pacaran, tapi setelahnya ketemuan dengan pacar dan foto bersama. Semua hal yang dilakukan tidak sesuai dengan apa yang diniatkan. Inilah, fenomena yang miris di lingkungan kita. Kebanyakan, orang yang seperti ini adalah orang yang merasa dirinya paling benar. Dia bilang bahwa dirinya tidak baik, dan butuh orang lain untuk memperbaiki dirinya, tetapi realitanya, dia tak menerima saran dan kritik dari orang lain. Bahkan, mereka akan menjadi seseorang yang egois dan merasa paling benar. Siapapun yang mencelanya, pasti akan dijauhi.

Setelahnya, saya membaca sebuah kata-kata di buku : “Orang yang mengatakan dirinya buruk, dia pasti sedang berbenah ke arah yang lebih baik. Sedangkan orang yang mengatakan dan menganggap dirinya baik, tanpa sadar dia menuju pada arah yang buruk. ”

Ya, saya faham bahwa tidak ada yang namanya hijrah palsu. Pasti kalian beralasan : Namanya aja hijrah, pasti berproses, tidak ada yang langsung. Hargai dong !

Hmm, oke tenang ya. Karena saya menghargai, maka saya menuliskan ini semua. Saya ingin mengatakan satu hal : “Jika kamu ingin dihargai hijrahnya, kenapa kamu tidak menghargai hijrahmu sendiri? Kenapa kamu bermaksiat di balik topeng hijrahmu? Aku tahu kamu sadar, tapi kenapa kamu masih menuruti nafsumu itu? “

Hmm, kamu pasti sekarang hanya diam. Di hatimu masih ada rasa tidak terima. Dan kamu masih mengatakan: tapi kan…….. Dan masih banyak kata “tetapi” di dalamnya.

Itulah, kalian tidak sadar bahwa kalian itu berharga. Kalian lupa tentang tujuan kenapa kalian hijrah. Bukankah semua memilih hijrah karena ingin lebih mudah masuk ke surga-Nya? Kalau begitu, kenapa masih menyertakan maksiat di balik hijrah? Kenapa hijrah itu hanya sebagai topeng dan penunjang populeritas? Bukankah harusnya hijrah adalah pengikat diri untuk terus berusaha berbenah diri dan menjauhi maksiat?

Lalu, kamu mulai menyalahkan orang lain ketika kamu dicela. Kamu mulai menyalahkan orang lain ketika kamu dikritik. Mereka bilang :

“Eh, bukannya dia sudah hijrah, tapi kok malah pacaran di pojok sana?”

“Eh bukannya dia sudah hijrah, tapi kok malah tidak memakai kerudung ketika keluar? “

“Eh, bukannya dia sudah hijrah, tapi kok …… “

Kamu mulai tidak suka dengan kalimat-kalimat itu. Padahal faktanya, kamu memang melakukan hal itu. Kamu mulai mencari pembenaran, bukan kebenaran. Kamu memang masih suka ketemuan dengan dia yang kamu suka. Perilakumu seperti orang pacaran, tapi kamu tidak mau dibilang pacaran.

Jika memang begitu, aku akan bertanya satu hal:

“Ketika orang menggoreng telur, lalu jelas-jelas dia memakannya, apa boleh aku mengatakan dia sudah memakan telur yang baru saja digorengnya? “

Lalu, kenapa ketika kamu sudah berperilaku seperti orang yang berpacaran, lalu kamu tak mau dibilang sebagai orang yang pacaran? Apa kamu malu dengan ungkapan itu karena kamu sudah terkenal sebagai orang yang berhijrah? Dan kamu malu karena postingan di sosial media mu menolak pacaran? Ah, boleh aku katakan lagi?

“Sungguh, jika kamu tahu, sebenarnya kamu sendiri tak punya malu dan kamu merendahkan dirimu sendiri dengan meremehkan hijrahmu.

Kamu bilang Istiqomah kan sulit. Tapi, kamu sendiri tak berusaha untuk Istiqomah dan kamu sendiri tak berusaha untuk meninggalkan apa yang kamu sukai.

Jika kamu tak berusaha tuk merubah keadaanmu, maka Allah pun tak akan merubah nasibmu.

Jangan berhenti menjadi baik. Tapi, niatkan dengan baik di hatimu. Lakukan semua hanya karena Allah. Bukan agar dinilai menjadi baik, untuk mendapat jodoh yang baik, untuk mencari pencitraan di depan manusia, dan terhindar dari penilaian buruk orang lain.

Manusia akan mendapat apapun sesuai dengan apa yang diniatkan. Maka, perbaikilah dari hal yang paling kecil yaitu niat. Dan ketika kamu ingin menjadi baik karena Allah, maka kamu akan mendapat banyak hal baik. Namun, ketika kamu hanya ingin menjadi baik karena jodoh, maka kamu juga akan mendapat orang yang pura-pura dalam hijrah.

Let’s go on to hijrah!!! 🙂

-Ida Mahvitasari-